JUAL BELALANG GORENG ONLINE, JUAL BELALANG GORENG JAKARTA, JUAL BELALANG GORENG HALAL, JUAL BELALANG GORENG KELANTAN, JUAL BELALANG GORENG KUNYIT, JUAL BELALANG GORENG DI JAKARTA, JUAL BELALANG GORENG SURABAYA, JUAL BELALANG GORENG BANDUNG, JUAL BELALANG GORENG JOGJA, JUAL BELALANG GORENG GUNUNG KIDUL,

Kamis, 27 Oktober 2016

Jual Belalang Goreng Bandung

BELALANG GORENG BANDUNG, BELALANG GORENG JOGJA, BELALANG GORENG GUNUNG KIDUL, BELALANG GORENG ONLINE, BELALANG GORENG JAKARTA, BELALANG GORENG HALAL, BELALANG GORENG KELANTAN, BELALANG GORENG KUNYIT, BELALANG GORENG DI JAKARTA, BELALANG GORENG SURABAYA,






Jual Belalang Goreng Bandung
WA 0812 1595 6140 (Simpati) Jual Belalang Goreng Bandung
Begini ceritanya. Saat itu ada keperluan survei lokasi untuk tagging koordinat (GPS) lokasi-lokasi pariwisata di Gunung Kidul dan sekitarnya. Berempat dengan rekan-rekan, kami berangkat menggunakan mobil milik teman dengan tujuan ke beberapa lokasi wisata di salah satu kabupaten di Yogyakarta itu. Kami sangat menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Di kanan kiri nampak kawasan hutan yang menghijau. Apalagi setelah melewati kawasan hutan Wanagama, sebuah hutan lindung buatan yang ditumbuhi tanaman keras, sangat menyejukkan. Terasa kontras sekali dengan image Gunung Kidul yang melekat selama ini sebagai kawasan tandus, kering dan selalu krisis air. “Kalau daerah yang kering dan tandus itu, di kawasan Gunung Kidul arah Selatan Mbak, yang menuju ke pantai-pantai wisata Baron, Kukup, Sadeng dan lain-lain,” jelas rekanku yang asli Yogyakarta menjawab pertanyaan rekan lain yang baru pertama kalinya ke daerah Gunung Kidul. Teringat semasa kuliah di Yogyakarta dulu, beberapa kali saya mengunjungi obyek wisata di pantai selatan itu. Saya lihat wilayah selatan Gunung Kidul merupakan kawasan perbukitan karst atau kapur yang banyak terdapat goa-goa alam. Tanaman pohon jati banyak dijumpai di daerah itu. Kondisi itu tidak memungkinkan untuk budidaya pertanian karena kondisi lahan kurang subur. Dampaknya banyak warga yang mencari penghasilan alternatif, salah satunya adalah mencari walang untuk dijual. Walang banyak ditemui di pohon jati, mlanding (petai Cina), lamtoro, akasia, turi, tanaman jagung, ketela dan lain-lain. Bagi warga Gunung Kidul sendiri, belalang kayu adalah makanan yang biasa menjadi lauk-pauk sehari-hari, bukan camilan lagi. Serangga ini diolah dengan cara sederhana yakni digoreng, dibacem ataupun hanya dibakar saja. Kembali ke laptop, ke cerita di atas. Setelah ngetagg beberapa tempat, pada sore harinya, kami tiba di Gua Pindul, salah satu obyek wisata baru di Gunung Kidul. Seperti laiknya obyek wisata umumnya banyak yang menjual makanan dan minuman. Namun sayangnya karena hari telah sore beberapa penjual sudah tutup. Khususnya penjual walang goreng. Di meja-meja kayu sederhana yang berderet di pinggiran jalan hanya ada tulisan ‘Jual Walang Goreng’ namun penjual dan walang jualannya sudah tak nampak. Teman saya bilang di jalan nanti banyak toko-toko oleh-oleh yang menjual belalang goreng.


Akhirnya saat di jalan Karangmojo – Wonosari, ketemulah sebuah toko pusat oleh-oleh. Senang karena keinginan makan belalang goreng akan terwujud. Tokonya lumayan ramai meski hari beranjak senja. Toples-toples belalang goreng dan bacem berderet di rak bersama jenis camilan lainnya. Kemasannya apik-apik, dan ini menambah nilai jual walang sendiri. Kami lalu membeli beberapa toples. Saya mencoba membayangkan, seandainya mencari sendiri belalang sebanyak itu, pasti butuh waktu seharian. Itupun kalau mujur, kalau apes yaaa bisa berhari-hari. Hehehe. Saya perhatikan belalang goreng itu warnanya agak kehitaman dan kering. Kering karena jenis goreng, kalau belalang bacem agak basah. Lumayan besar-besar ukurannya. Suthang atau kaki belakangnya tinggal yang bagian paha. Bagian kaki sudah dipotong, dibuang. Sayap juga sudah tak ada. Bagian perut sudah kosong, karena jeroan, usus, dan kotorannya sudah dibuang. Akhirnya makanlah kami sepuasnya belalang goreng yang enak dan kriuk. Saya terakhir kali makan belalang di masa kecil, itupun hanya saya bakar dengan bumbu garam. Iseng-iseng saja kalau pas mencari kayu bakar ke hutan di pinggiran desa.

Namun bagi teman-teman yang mau mencoba makanan ini, berhati-hatilah karena dapat menimbulkan alergi. Dampak alergi ditandai dengan gatal-gatal di kulit. Bisa di tangan, tubuh maupun muka. Tapi menurut si penjualnya waktu itu, jika terkena gejala gatal-gatal kita diminta untuk minum kopi hitam diseduh tanpa gula. Cara ini katanya manjur. Boleh dicoba deh. Kalau saya tak alergi makan walang, mungkin style perut kampung jadi sudah familiar dengan menu asli kampung ini. Hehehee… Oya, menu walang ini sudah ada yang diolah menjadi menu yang keren dan dikemas apik. Misalnya dibuat menjadi nugget. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Ridho Andika Putra. Ridho mengolah belalang menjadi nugget. Nugget ini bisa dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang dewasa sebagai lauk maupun camilan. Lebih lengkap baca artikel “Mau Cicip Nugget Belalang yang Gurih Kaya Protein?” Bentuk nugget mungkin lebih mudah diterima oleh banyak orang, karena saat memakannya tidak teringat bentuk aslinya. “Agak ngerii dan gimanaaa getu, kalau makan masih berbentuk walang,” komentar temanku. Fakta menarik lagi adalah soal kandungan gizi walang. Menurut penelitian ternyata kandungan protein walang goreng dalam kondisi kering mencapai 60 persen, sedangkan pada kondisi basah mencapai 40 persen. Ini berarti proteinnya lebih tinggi dari udang windu, yang selama ini dikenal dengan kandungan tinggi protein. Mengindikasikan juga bahwa menu walang tidak beracun dan berbahaya untuk dikonsumsi. Sedangkan kadar protein setelah diolah menjadi tepung, ada perbedaan nyata antara kadar protein tepung belalang kayu dan tepung udang windu, di mana protein tepung belalang kayu lebih tinggi dibanding tepung udang windu dengan kadar masing-masing 17,922 dan 9,846 persen. Informasi lengkap baca “Protein Belalang Lebih Tinggi Dari Udang.” Tak kalah pentingnya untuk diketahui bahwa walang mempunyai kadar kolesterol dan lemak yang sangat rendah. Jadi kita tidak perlu khawatir akan terkena sakit jantung apabila mengkonsumsinya. Demikianlah teman-teman cerita si Bolang selesai. Selamat mencoba menu walang, sampai jumpa di edisi kuliner berikutnya. Salam Sederhana dari Kampung.


Bagi anda yang ingin merasakan kriuknya belalang goreng, dapat menghubungi kami, kami siap membantu anda
Belalang Goreng Gunungkidul
WA 0812 1595 6140 / BB D10D26DB
, , , , , , ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar